Rabu, 13 Maret 2013

Cinta ku On Line





CINTAKU  “ONLINE”

BY: Ana Rizki Saputri



Sembirut nampak di atap kehidupan. Gumpalan awan abu-abupun ikut berjejer rapi bak barisan kopral. Pertanda tak lama lagi air-air langit akan turun ke singgasana bumi.
Tiba-tiba aku teringat pada ikhwan sholeh bernama Rizqy yang ku kenal lewat dunia maya sekitar 4 tahun lalu. Dia adalah lelaki pertama yang membuat hatiku berdesir disaat fikiranku bermain dalam imajinasi tentang dirinya.

Sejenak hati dan fikiranku saling beradu dalam imajinasi yang semu. Disana terlukiskan wajah kalem yang memang belum pernah kulihat dalam dunia nyata. Hanya saja pernah kulihat pada sebuah photo yang terpampang dalam layar monitor di laptopku, ya...dalam dunia maya, Facebook..!!
Dunia maya-lah yang telah memperkenalkanku pada sesosok ikhwan bernama Rizqy. Bagiku ia tak sekedar ikhwan soleh tetapi juga merupakan sesosok  ikhwan sejati yang berjiwa religius. Dia telah mengajaku berjelajah lebih jauh dalam dunia keislaman. Dia juga telah memberiku banyak pelajaran hidup yang begitu berharga yang selalu terbingkis dalam indahnya bingkai Islam. 
            Meskipun aku belum pernah bertemu secara langsung dengannya, tapi seolah cahaya Illahilah yang telah menerangi ku untuk mengenali hatinya. Dan aku pun merasa telah begitu dekat dengannya. Aku merasa seolah kita telah kenal sejak lama bahkan sejak kita kecil, hanya saja jarak dan waktulah yang kini memisahkan. Kita pun sering berjelajah kembali ke masa lalu kita masing-masing. Kita sering bertukar cerita masa kanak-kanak kita satu sama lain, ya..masa yang begitu lucu jika dikenang.
Dari wajahnya yang teduh itu terpancar sinar kebajikan dan kejujuran ada pada diri lelaki itu. Aku pun tak bisa mengelak kalau aku senang bisa mengenalnya, meskipun sebatas dunia maya. Aku pun berharap semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu dan bisa menjalin ukhwah silaturahmi Islamiah yang berawal dari perkenalan ini.
@@@
Titik awal aku mengenalnya
            Kala itu aku merasakan kerinduan yang terbesit dalam dinding hatiku. Aku begitu merindukan teman-teman dan juga masa-masa ketika mondok di Al-Hikmah dulu. Aku putuskan untuk membuka laptop untuk online dalam Facebook. Lewat jejaring ini lah biasanya aku bernostalgia dengan masa lalu ku ketika berada di Pondok Pesantren Al-Hikmah.
Memang sering kudapati teman-temanku itu yang lagi On di Facebook. Hmm, apalagi teman ku yang satu ini, akhwat bernama Sovy yang dulu sering ku panggil dengan Nyop-nyop ini paling sering ku dapati lagi eksis di Facebook. Sampai-sampai kini telah ku ganti nama panggilan untuk dirinya yaitu UAP alias ‘ukhty aktivis pesbuk’ he he he.
Tiba-tiba muncul pesan dari seseorang yang tak ku kenal.
            “Asalamu’alaikum...” Tiba-tiba muncul sebuah pesan dari seseorang yang bernama  ‘Moh.Rizqy H’ dalam daftar Chat ku
            “Wa’alaikumussalam...” Dengan singkat akupun menjawab
            “Pangampunten..Saya mau tanya ukhty masih di PP. Al-Hikmah atau sudah jadi alumni ya?”
            “Saya baru lulus dari Al-Hikmah tahun ini,o..iya maaf apa sebelumnya kita udah pernah kenal,kok njenengan bisa tau kalau saya dari Al-Hikmah?”
            “Mohon maaf sebelumnya, tadi tak sengaja saya membuka profil ukhty dan ternyata ukhty juga dari Al-Hikmah ya..”
            Dan ternyata lelaki bernama Rizqy itu juga pernah mengenyam pendidikan di PP. Al-Hikmah Benda, Brebes, Jawa Tengah. Namun, hanya pada waktu Tsanawiyahnya saja. Berbeda halnya dengan diriku yang hari-harinya ku habiskan di penjara suci itu sejak masa Tsanawiyah hingga Aliyahku. Hanyasaja dia selisih 5 tahun diatas ku.
            Begitu renyahnya kita berbincang-bincang seputar Al-Hikmah. Serasa sedang bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa lalu di Penjara Suci itu. Obrolan kita bukan hanyalah sekedar obrolan kosong, melainkan obrolan seputar bahasan dalam lingkaran Islam. Kerapkali kita membahas mengenai hukum fiqh. Karena persoalan fiqhlah yang sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Entah mengapa aku senang bisa mengenalinya, ya...meskipun lewat dunia maya. Dengan mengenalanya aku merasa mendapat lebih banyak pengetahuan tentang Islam.
            Aku juga seringkali bertanya kepada lelaki itu disaat aku sedang bingung mengenai suatu hukum. Dan iapun dapat menjelaskannya dengan mudah, bak seorang ustadz yang tau banyak tentang dunia keislaman. Tak ayal terkadang akupun meledeknya dengan panggilan ‘pak ustad’, tapi ia selalu menimpali dengan berkata ‘emangnya saya udah bapak-bapak?..hehe he’. Selalu saja ia tak  ingin disebut sebagai ustadz. Hmm..katanya sih dia belum pantas untuk dipanggil ustadz, ilmunya masih unyil, gitu (kaya di film Tuyul dan Mbak Yul aja..hi hi hi).
@@@
            Lelaki berdarah jawa itu berasaldari kota yang akrab di sebut dengan Kota Batik atau Pekalongan. Namun ia sempat tinggal di Negri Gingseng, sejak tahun 2005 lalu. Di sana ia bekerja menjadi seorang TKI, yang bekerja di sebuah pabrik elektronik.
            Ia adalah seorang pemuda yang sederhana, namun memiliki semangat juang yang tinggi serta berjiwa religius. Pada usianya yang ke-18 tahun ia telah merampungkan pendidikannya di SMK N 1 Pekalongan pada jurusan Otomotif. Namun ia urungkan niatnya untuk melanjutkan kuliah. Ia memutuskan bekerja ke luar negri untuk mencari modal untuk kuliah dan juga untuk membiayai pengobatan ibunya yang divonis sebagai penderita kanker otak setadium atas.
            Namun sungguh malang nasib pemuda bernama Rizky itu. Baru saja beberapa bulan dalam perantauannya di negeri orang, ternyata Allah berkehendak lain. Sang Khalik telah memanggil ibunya untuk kembali ke sisi-Nya.Tentu itu sangat memukul perasaannya. Dan yang lebih menyesalkan, ia tidak bisa mengantarkan sang bunda ke tempat peristirahatan terakhir karena kontrak kerja yang mengikatnya. Hanyalah doa yang tulus yang dapat mewakili kehadiranya untuk menghantarkan sang bunda ke tempat persemayamannya yang terakhir.
            Dan waktupun terus bergulir. Entah mengapa kian hari aku merasa semakin dekat  dengannya. Sudah hampir 4 tahun ini aku mengenalnya dalam dunia maya. Mulai dari ketika aku masih bersetatuskan mahasiswa baru, hingga pada saatnya kini aku akan diwisuda sebagai sarjana Pendidikan Agama Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, akupun masih sering chatt dengannya di Facebook.
            Seperti biasanya ba’da shalat Isya aku stand by di depan layar monitor untuk On di Facebook, ‘ya untuk menimba ilmu dari Ustadz Rizqy’ begitulah niat dalam hatiku..he he he.
            Deegg, tiba-tiba hatiku tersentak bagai tersetrum aliran listrik, dadaku gemuruh denyut jantungku tak menentu, dan tiba-tiba seluruh tubuhku terasa bergetar. Ahh..aku tak tau apa yang sedang kurasakan.
            Disela-sela obrolan, lelaki bernama Rizqy itu menyatakan suatu hal yang cukup membuatku tersentak kaget. Selama kita saling mengenal memang kita tak pernah menyinggung tentang perasan diantara kita berdua. Tapi...entah mengapa ketika lelaki itu menyatakan bahwa beberapa bulan kedepan ia akan kembali ke tanah air untuk melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihan Romo Kyai nya sewaktu dulu ia nyantri di Pekalongan. Hatiku seperti tersayat pisau  tajam yang begitu menyakitkan.
@@@
            Siang pergi dan malampun datang berdiri tegak, menemani kegalauan dalam hatiku akan kejadian kemarin malam. Sebelumnya aku tak pernah menyadari, ternyata hatiku telah mengagumi sosok lelaki sholeh itu lebih dari kekaguman biasa. Aku tak pernah menyangka hatiku akan merasakan perih di akhir cerita ini.
            Tak seperti biasanya ba’da shalat isya aku langsung merebahkan tubuhku diatas ranjang tempat tidurku. Sudah hampir 1 jam tubuhku berguling ke kanan dan kekiri di atas perebahan karena tak bisa tidur. Hatiku tak tenang dan batinku menangis kala mengingat hal yang menyakitkan itu. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil air wudhu dan kulanjutkan untuk shalat hadjat, yang mungkin bisa menenangkan batin dan jiwaku ini. Dalam sujudku aku menangis, air matapun membasahi sajadahku.
Ya Allah...
Dzat yang maha megetahui segala yang ada pada ciptaan-Mu
Sesungguhnya segala yang ada pada diriku adalah hak atas-Mu
Segala yang ku punya semua akan kembali pada-Mu
Dan segala yang kini sedang ku rasa, semua adalah kehendak dari-Mu
Sesungguhnya rasa cinta yang kumiliki semata-mata karena cinta dari-Mu
Ya Illahi Rabbi Ya Rahman Yaa Rahim...
Kembalikanlah hamba pada tulang rusuk lelaki yang Engkau pilihkan untuk ku
Lelaki yang meletakanku pada posisi ke dua setelah Engkau
Lelaki yang benar-benar mencintaiku dan semata-mata karena ingin mendapat Ridho dari-Mu
Lelaki yang menyandarkan cintanya semata-mata karena cinta-Mu
Ya Allah yang maha benar...
Sesungguhnya hamba meminta petunjuk-Mu dari segala keputusan di setiap titik akhirnya
Ya Allah...
Jagalah cinta hamba kepadanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Jika memang rasa cinta ini kau takdirkan untuknya,
maka pertemukanlah cinta suci kami  dalam garis Ridho-Mu
Tautkanlah cinta kami pada cinta-Mu yang Agung
Dan sesungguhnya apabila cinta ini bukanlah untuknya,
maka lapangkanlah hati hamba untuk ikhlas melepas rasa cinta ini  darinya
Sesungguhnya hamba tak menginginkan lelaki yang sempurna,
Namun atas izin dari-Mu hamba akan datang untuk menyempurnakannya..
@@@
            Hampir dua bulan aku sudah tak pernah on di Facebook, dan sudah hampir dua bulan juga kejadian yang menyakitkan itu menemani hari-hari ku. Entah mengapa perasaan sakit itu tak bisa hilang dan terus bersarang dalam hatiku.
            Di dalam kamar, aku sedang membaca salah satu buku favoritku, La-Tahzan karya Dr. ‘Aidh Al-Qarny. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan konsentrasi membacaku. Ternyata ummiku tercinta yang datang. Sambil membawa pisang goreng kesayanganku ummipun masuk kedalam kamarku. Diletakanlah piring berisi pisang goreng itu di atas meja belajarku. Akupun membalas kebaikan ummi dengan seuntai senyum manis dari bibirku.
            Tiba-tiba ummi juga duduk di  sebelahku. Akupun bingung dengan tingkah ummi yang tak seperti biasanya. Dengan raut wajah serius ia menatapku dalam, tapi masih dibarengi dengan senyuman tulus yang mekar dari bibirnya. Sepertinya ada hal penting yang ingin ummi katakan pada ku.
            “ Ada apa ummi, apa ada sesuatu yang ingin ummi bicarakan sama Yasmin?”
            “Nduk, kamu ini kan sekarang sudah jadi sarjana, kamu juga udah mulai kerja. Dan usiamu juga sekarang udah dewasa to...”
            “Iya mi, memangnya kenapa ummi?”
            “Gini loh nduk. Waktu beberapa bulan lalu abah sama ummi sowan ke ndalemnya Pakde KH.Masrury yang di Pekalongan, ya sambil nengokin adikmu yang lagi nyantri di pondoknya itu. Ummi sama abah bilang sama Pakdemu suruh nyariin lelaki sholeh untuk jadi pendamping hidupmu. Lah tadi Pakdemu itu telpon katanya hari senin besok lelaki itu mau datang kerumah, mau silaturahmi sekalian mau mengkhitbahmu. Jadi kamu siap-siap ya nduk.. Oh ya.. jangan lupa besok dandan yang cantik ya nduk”.
            Ummi mengutarakan semua maksudnya dengan panjang lebar. Ummipun menceritakan dengan detail tentang sosok lelaki yang akan menjadi calon suamiku itu. Kata ummi lelaki itu bernama Hazby, dia adalah santri Pakde Masruri sekaligus pernah menjadi ustadz di pondoknya. Dia juga sudah jadi sarjana di Soul National University, Korea. Dan sekarang sudah menjadi Pengusaha Batik Internasional di Korea.
             Aku kaget ketika mendengar pernyataan ummi tadi. Sebenarnya aku ingin menolak keputusan abah dan ummiku itu. Kurasa itu terlalu mendadak untuk ku ketahui. Lagipula itu terlalu cepat bagiku untuk melagkah kejenjang yang serius. Tapi...apalah daya, aku selalu saja tak bisa mengatakan ‘tidak’ kepada dua orang yang paling ku sayangi di dunia ini.            Disamping itu kemelut dalam dadaku masih terasa. Sakit yang bersarang di hatikupun belum juga memudar. Aku masih mengharapkan sosok ikhwan sholeh bernama Rizqylah yang akan menjadi imam untuk aku dan juga anak-anaku kelak.
@@@
            Teng...!! jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi aku masih duduk termenung di atas ranjang dengan ditemani boneka teddy bear kesayanganku. Sepertinya malam ini kantuk tak ingin mampir di pelupuk mataku. Kegelisahan menyelimutiku. Kemelut dalam dada semakin memuncak. Aku tak ingin waktu bergulir cepat, aku tak mau pagi itu datang. Aku takut pertemuan besok akan menambah kesedihan dalam hatiku.
            Tapi...apalah daya, dengan kuasa-Nya pastilah pagi itu datang. Adzan subuh membangunkan tidur lelapku. Ternyata semalam aku tertidur juga. Akupun bangun kesiangan dari target alert di hp ku yang memang selalu ku aktifkan. Aku telah kehilangan waktu sepertiga malam yang biasanya tak pernah ku lewatkan untuk bermunajat kepada-Nya.
             Akhirnya akupun bergegas bangkit dari tempat perebahan  untuk mengambil air wudhu. Seusai shalat shubuh aku membantu ummi yang sedang sibuk di dapur untuk mempersiapkan sarapan dan juga wedangan untuk tamu-tamuku nanti.
            Jarum jam terus berputar melintasi keduabelas angka yang telah terangkai dalam jam dinding di rumahku. Waktu terus merajut cerita. Sekarang waktu menunjukan pukul 09.15 WIB. Sudah hampir setengah jam abah dan ummi di ruang tamu menunggu Pakde beserta rombongan tamuku datang. Yaa ma’lumlah sedang musim hujan sekarang ini, jadi mungkin perjalanan Pekalongan-Semarang tak begitu lancar. Makannya perjalanan mereka lebih lama dari biasanya.
            Akupun masih termenung di depan meja rias, sambari menatap wajah yang berbalut make up tipis dari pantulan cermin. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahku persis. Ya...pastilah itu tamuku yang datang. Deegg...ternyata benar prasangkaku itu. Tiba-tiba denyut jantungku berdebar tak menentu, seluruh tubuhku terasa tegang seperti mengalir listrik di dalamnya. Perasaan itu tak berbeda jauh dengan apa yang pernah ku rasakan ketika peristiwa beberapa bulan yang lalu. Yaa...ketika lelaki bernama Rizqy itu mengatakan akan kembali ketanah air dan menikah dengan akhwat pilihan Kyainya.
            Tiba-tiba ummi mengetuk pintu kamarku, dan masuk untuk menjemputku keluar agar aku  menemui tamuku itu. Akhirnya akupun beranjak meninggalkan kamar mungilku menuju ruang tamu.
            Ku langkahkan kaki ini dengan penuh keikhlasan. Dalam tatihan langkahku kini semua telah ku pasrahkan pada-Nya. Insya Allah aku tlah siap menerima apapun yang akan terjadi nanti.
            Subhanallah...perasaanku tambah tak karuan. Rasa kaget, senang dan haru bercampur dalam dadaku. Melebur rasa takut, sedih dan kemelut yang akhir-akhir ini menghantuiku. Dan ternyata lelaki bernama Hazby itu adalah sosok lelaki yang memang ku idamkan menjadi kekasih halalku. Lelaki bernama Hazby itu adalah sosok ikhwan sholeh yang pernah ku kenal sekitar 4 tahun terakhir ini di Facebook. Ya Hazby, Muhammad Rizqy Hazbyullah namanya.
@@@
            Dua minggu yang lalu lelaki idamanku telah resmi mengkhitbahku. Dan hari ini Allah telah mengizinkan aku untuk menjadi kekasih halalnya. Akhirnya kami bersanding di kursi pelaminan. Dengan diramaikan oleh sanak keluarga dan juga tamu undangan. Pesta pernikahan yang sederhana ini terasa ramai dan penuh dengan kehangatan.
            Rasa syukur yang begitu besar kulimpahkan kepada-Nya. Ternyata Allah telah merencanakan hikmah yang begitu besar, di balik peristiwa yang telah menenggelamkan ku dalam kesedihan. Peristiwa yang telah merubah diriku menjadi perempuan yang dilemahkan oleh cinta. Tak pernah sebelumnya aku terpuruk dalam kesedihan hanya karena cinta kaum adam. Mungkin berkat kesabaran dan juga keikhlasan ku yang semata-mata karena Allah Ta’ala itulah yang telah membawa aku terbang bersama bunga-bunga kebahagiaan ini.
            Ini adalah malam pertamaku bersama mas Hazby. Kami membukanya dengan shalat sunnah berjamaah 2 rakaat. Tak lupa mas ku itu membacakan doa ba’da sholat dan kemudian mendaratkan bibirnya di keningku. Sungguh anugrah terindah dalam hidupku.
            Sebelum ku pasrahkan jiwa dan ragaku ini pada suamiku. Kusempatkan bertanya padanya. Tentang satu hal yang masih terngiang dalam fikiranku. Mengapa ia dahulu berkata kepada ku bahwa ia di Korea sebagai seorang TKI. Mengapa ia tak megatakan seperti apa yang kulihat sekarang ini.
            Akhirnya ia pun menceritakan semuanya kepada ku tentang lika-liku perjalanan hidupnya, hingga sampai 6 tahun lamanya ia bisa hidup di Negeri Gingseng. Ternyata dia memang pernah menjadi seorang TKI di Korea, tetapi hanya 2 tahun. Kemudian ia memutuskan untuk kuliah sambil mengembangkan usaha batik warisan keluarganya di Negeri Gingseng itu. Hingga akhirnya ia dapat membangun perusahaan batik bertaraf internasional seperti sekarang ini.
            Oh...terimakasih ya Allah Kau telah mengijabahi doa hamba. Kau telah mengembalikan hamba sebagai tulang rusuknya. Kau telah tautkan cinta kami pada cinta-Mu yang agung. Kau pertemukan cinta kami dalam jalinan yang suci ini. Semoga Kau meridhoi cinta kami. Karena sesungguhnya cinta ku padanya semata-mata hanya karena cinta-Mu ya Rabb. 

Tidak ada komentar: