Indonesia merupakan negara besar, namun dari sisi pertahanan Indonesia begitu lemah.
Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura Indonesia masih tertinggal jauh alutsistanya. Hal
ini memang perlu mendapat perhatian. Namun dalam konteks ini bukan semata-mata
untuk jaim alias jaga image terhadap negara lain. Melainkan
dilandasi visi pertahanan Nasional. Tentu saja dengan memperhatikan keadaan
ekonomi dan kemampuan anggaran pula.
Prioritaskan Rakyat
Seiring
dengan kontrak pembelian pesawat tempur Sukhoi yang ditandatangani pada 29
Desember 2011 lalu, saya kira kurang tepat. Di saat peliknya permasalahan
ekonomi Indonesia, pemerintah justru mengadakan pembelian 6 unit pesawat tempur
Sukhoi buatan Rusia, yang mengatasnamakan kedaulatan Nasional sebagai tujuan. Namun
terdapat indikasi kuat adanya
penggelembungan dana hingga trilliunan rupiah. Tak sepantasnya pemerintah melakukan
hal tersebut. Implikasinya adalah rakyat yang semakin tercekik.
Kendati
demikian, pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) bukanlah tindakan
yang salah. Hanya saja perlu memperhatikan keadaan ekonomi dan kemampuan
anggaran yang ada. Pemerintah seharusnya lebih jeli untuk memahami status
perekonomian serta keadaan finansial Indonesia saat ini.
Alutsista
memang penting, namun bukankah kesejahteraan rakyat lebih penting? Toh
Indonesia masih mempunyai inventaris
alutsista yang masih layak. Hingga menunggu waktu dan keadaan ekonomi yang
tepat untuk pengadaan tambahan alutsista demi pertahanan Nasional.
ANA RIZKI SAPUTRI, MAHASISWI IAIN WALISONGO SEMARANG
REPUBLIKA/Suara Kampus/04-04-12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar