Jumat, 30 Maret 2012

Pendidikan Anti Korupsi


Gaung kasus suap, korupsi, penggelapan uang dan kasus tetek bengek lainnya sudah terlalu sering mewarnai birokrasi Indonesia. Semakin lunturlah kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Hampir-hampir rakyat Indonesia telah jenuh dan muak untuk menanggapi semua itu. Rakyat hanya menjadi korban permainan politik yang berkedok pemerintahan.
            Dewasa ini tindakan korupsi telah menjamur di negeri kita. Kerap kali pelakunya ialah para birokrat dan anggota DPR. Yang seharusnya menjadi panutan dan pengayom bagi rakyatnya. Mereka gemar mengedepankan prinsip “anjing menggonggong, kafilah berlalu dengan cueknya”. Dengan demikian kata “korupsi” pun telah akrab terdengar di telinga kita.
Sejatinya korupsi merupakan salah satu tindakan yang mencerminkan rendahnya karakter pada diri seseorang. Sikap rendahan seperti ini timbul karena tidak tertanamnya nilai-nilai pendidikan karakter sejak usia dini. Sehingga berimplikasi terhadap perkembangan emosianal di masa dewasaanya.
Banyaknya kasus-kasus korupsi yang telah mewarnai bangsa ini, agaknya telah mencerminkan rendahnya angka moral dan miskinnya karakter pada diri bangsa. Sehingga perlu adanya strategi untuk memulihkan moral bangsa. Salah satu solusinya yaitu dengan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter sejak dini.
Hemat saya, dengan di selenggarakannya “Pendidikan Anti Korupsi” di sekolah-sekolah, dapat dijadikan sebagai strategi untuk meminimalisir atau bahkan mematikan perkembangbiakan virus-virus korupsi. Guna membekali anak-anak bangsa dengan logika artifisialis sebagai perisai diri, yang merupakan kemampuan berpikir dalam rangka mencari kebenaran, membedakan yang benar dari yang salah, yang diperoleh dari proses belajar.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan yang berupaya membangun kecerdasan intelektual,tetapi juga pendidikan yang berpotensi membangun kecerdasan emosional.
Diharapkan dengan diselenggarakannya “Pendidikan Anti Korupsi” yang juga diimplementasikan  dapat membentengi serta menjauhkan anak-anak bangsa dari krisis kejujuran dan keadilan.

Tidak ada komentar: