Tak Kenal Status
Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan yang
bertujuan untuk membentuk manusia yang terdidik serta bermentalitas tinggi. Jika
dikatakan bahwa perguruan tinggi merupakan momok pencetak koruptor, saya kurang
setuju akan hal itu. Memang, dewasa ini para koruptor merupakan orang-orang
terdidik yang dulunya mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Namun tak semua
dari koruptor merupakan orang yang berpendidikan tinggi, banyak juga
orang-orang kalangan kelas teri yang menjadi koruptor. Seperti yang dikatakan
oleh Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Ganjar Pranowo ”Korupsi itu tidak kenal status, jenis
kelamin, partai, agama, pangkat. Asal ada kesempatan, peluang korupsi terbuka”.
Oleh karena itu korupsi dapat terjadi pada siapapun, kapanpun dan dimanapun
tanpa pandang bulu, selagi peluang itu ada.
Jangan Salahkan Instansinya
Jadi
jangan salahkan instansi ataupun pendidikannya akan perihal terjadinya tindak
korupsi tersebut. Akan tetapi, semua kembali pada pribadi masing-masing. Semua
berawal dari rendahnya moral individu itu sendiri. Karena krisis moral lah yang
menjadikan orang tersebut melakukan tindak pidana korupsi. Serta bagaimana ia dapat
mengimplementasikan ilmunya dalam
kehidupannya setelah ia keluar dari lembaga pendidikan tersebut. Bukan
malah menyalahgunakan ilmu yang ia dapat untuk merugikan orang lain demi
kepentingan pribadi.
Oleh: Ana Rizqy Saputry
REPUBLIKA/Suara Kampus/16 Mei 2012

2 komentar:
nice post.
setuju ukhti, tindakan amoral dan"pemuja setan sejati" agaknya semakin mengakar di negeri ini.
syukron ukhti, udah mampir di blog sederhana ini ^_^
semoga tindakan-tindakan tersebut bisa segera dinafikan dari negeri ini, dan Indonesia bisa semakin Damae :)
Posting Komentar