Kamis, 10 Mei 2012

Pendidikan Antikorupsi Sebagai Perisai Terhadap Godaan Matrealisme


            Oleh: Ana Rizqy Saputry. Gaung kasus suap, korupsi, penggelapan uang dan kasus tetek bengek lainnya sudah terlalu sering mewarnai bangsa Indonesia. Kasus-kasus tersebut seolah telah mengakar dan membudaya pada diri bangsa. Diantara kasus-kasus tersebut yang sering disorot ialah tindak pidana korupsi. Sejatinya korupsi merupakan tindakan yang mencerminkan rendahnya karakter pada diri seseorang. Sikap rendahan seperti ini timbul karena tidak tertanamnya nilai-nilai karakter sejak usia dini. Sehingga berimplikasi terhadap perkembangan emosianal di masa dewasaanya.
            Dewasa ini tindakan korupsi telah menjamur di negeri kita. Tindakan tersebut terjadi di berbagai kalangan. Dan yang lebih ironi, kerap kali praktiknya terjadi dikalangan petinggi dan elite politik, yang seharusnya mereka menjadi panutan dan pengayom bagi rakyatnya.
Banyaknya kasus-kasus korupsi yang telah mewarnai bangsa ini, agaknya telah mencerminkan rendahnya angka moral dan miskinnya karakter pada diri bangsa. Sehingga perlu adanya strategi untuk memulihkan kembali mentalitas bangsa yang terninabobokan. Salah satu solusinya yaitu dengan penanaman nilai-nilai karakter sejak dini.
Hemat saya, dengan adanya rencana penyelenggaraan “Pendidikan Antikorupsi” yang akan diberlakukan pada bulan juli mendatang (tahun ajaran 2012/2013) di semua jenjang pendidikan, dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meminimalisir atau bahkan mematikan perkembangbiakan virus-virus korupsi yang telah menggejala di negeri ini.
Peserta didik tidak hanya membutuhkan pendidikan yang berupaya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga pendidikan yang berpotensi membangun kecerdasan emosional. Faktanya, pendidikan di Indonesia dewasa ini lebih menekankan pada aspek kognitif ketimbang afektifnya. Pendidikan yang hanya mengedepankan kecerdasan intelektual dibanding kecerdasan emosional. Sehingga prinsip serta nilai kejujuran, keadilan dan nilai-nilai kebajikan lainnya termarginalkan.
Perspektif inilah yang salah dalam implementasi pendidikan, yang menjadikan seseorang tak lagi mementingkan karakter diri. Yang kemudian dapat menjerumuskannya kedalam lubang kenistaan, salah satunya yaitu tindak pidana korupsi.
Memang rencana pemerintah kali ini patut kita acungi jempol. Itu artinya, masalah pendidikan antikorupsi menjadi ikhwal penting dalam dunia pendidikan. Namun dalam pengajarannya harus balance antara teori dengan praktiknya. Karena pendidikan di Indonesia dewasa ini lebih terfokus pada sisi teori dibanding praktiknya. Sehingga yang lebih di utamakan yaitu target kognitif bukan afektifnya. Dengan demikian aspek mental seperti kejujuran dan tanggung jawab pun kurang mendapat perhatian.
Dengan melatih kejujuran dan tanggung jawab sejak usia dini, sejatinya siswa telah belajar dan berlatih untuk bertindak kebajikan di masa depannya. Sehingga di masa mendatang mereka tak melakukan tindakan yang menyimpang dari garis kebenaran.
 Misalnya saja ketika sedang menghadapi ujian di sekolah, diharapkan para siswa dapat memegang teguh nilai-nilai kejujuran, sehingga tidak melakukan kecurangan dalam mengerjakan soal ujian tersebut ataupun menyontek temannya. Disamping itu juga perlu ditegakkannya rasa tanggung jawab terhadap peserta didik. Sebagai contoh, siswa  bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya sebagai seorang pelajar, dan ia enggan untuk membolos. Sehingga ketika ia telah dewasa nanti, ia benar-benar bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, dan tidak mudah tergiur oleh godaan matrealisme yang menghampirinya.
Diharapkan dengan diselenggarakannya “Pendidikan Antikorupsi” yang juga diimplementasikan kedalam tindakan yang konkrit, dapat membentengi serta menjauhkan anak-anak bangsa dari krisis kejujuran dan keadilan. Serta mampu memerangi dan menumbuhkan sikap antikorupsi yang dapat dijadikan sebagai perisai diri untuk menghadapi godaan matrealisme yang ada.

2 komentar:

An mengatakan...

semangat pagi, cinta ;)
semoga Indonesia bersih dari KKN, yaa

salam kenal FLPers,
www.aniamaharani.blogspot.com

Anna Rizqy Saputry mengatakan...

makasih atas kunjungannya ukhti ania:)

hmm..iya, amiin..
kalaupun ada praktek KKN yang telah terjadi di Indonesia, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita sebagai generasi penerus yaa :)