Oleh: Ana Rizqy Saputry. Gaung kasus suap,
korupsi, penggelapan uang dan kasus tetek bengek lainnya sudah terlalu
sering mewarnai bangsa Indonesia. Kasus-kasus tersebut seolah telah mengakar
dan membudaya pada diri bangsa. Diantara kasus-kasus tersebut yang sering
disorot ialah tindak pidana korupsi. Sejatinya korupsi merupakan tindakan yang
mencerminkan rendahnya karakter pada diri seseorang. Sikap rendahan seperti ini
timbul karena tidak tertanamnya nilai-nilai karakter sejak usia dini. Sehingga
berimplikasi terhadap perkembangan emosianal di masa dewasaanya.
Dewasa ini
tindakan korupsi telah menjamur di negeri kita. Tindakan tersebut terjadi di berbagai
kalangan. Dan yang lebih ironi, kerap kali praktiknya terjadi dikalangan
petinggi dan elite politik, yang seharusnya mereka menjadi panutan dan pengayom
bagi rakyatnya.
Banyaknya
kasus-kasus korupsi yang telah mewarnai bangsa ini, agaknya telah mencerminkan
rendahnya angka moral dan miskinnya karakter pada diri bangsa. Sehingga perlu
adanya strategi untuk memulihkan kembali mentalitas bangsa yang terninabobokan.
Salah satu solusinya yaitu dengan penanaman nilai-nilai karakter sejak dini.
Hemat
saya, dengan adanya rencana penyelenggaraan “Pendidikan Antikorupsi” yang akan
diberlakukan pada bulan juli mendatang (tahun ajaran 2012/2013) di semua
jenjang pendidikan, dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meminimalisir atau
bahkan mematikan perkembangbiakan virus-virus korupsi yang telah menggejala di
negeri ini.
Peserta
didik tidak hanya membutuhkan pendidikan yang berupaya membangun kecerdasan
intelektual, tetapi juga pendidikan yang berpotensi membangun kecerdasan
emosional. Faktanya, pendidikan di Indonesia dewasa ini lebih menekankan pada aspek
kognitif ketimbang afektifnya. Pendidikan yang hanya mengedepankan kecerdasan
intelektual dibanding kecerdasan emosional. Sehingga prinsip serta nilai
kejujuran, keadilan dan nilai-nilai kebajikan lainnya termarginalkan.
Perspektif inilah yang salah dalam
implementasi pendidikan, yang menjadikan seseorang tak lagi mementingkan
karakter diri. Yang kemudian dapat menjerumuskannya kedalam lubang kenistaan,
salah satunya yaitu tindak pidana korupsi.
Memang
rencana pemerintah kali ini patut kita acungi jempol. Itu artinya,
masalah pendidikan antikorupsi menjadi ikhwal penting dalam dunia pendidikan. Namun
dalam pengajarannya harus balance antara teori dengan praktiknya. Karena
pendidikan di Indonesia dewasa ini lebih terfokus pada sisi teori dibanding
praktiknya. Sehingga yang lebih di utamakan yaitu target kognitif bukan
afektifnya. Dengan demikian aspek mental seperti kejujuran dan tanggung jawab pun
kurang mendapat perhatian.
Dengan melatih kejujuran dan
tanggung jawab sejak usia dini, sejatinya siswa telah belajar dan berlatih untuk
bertindak kebajikan di masa depannya. Sehingga di masa mendatang mereka tak melakukan
tindakan yang menyimpang dari garis kebenaran.
Misalnya saja ketika sedang menghadapi ujian
di sekolah, diharapkan para siswa dapat memegang teguh nilai-nilai kejujuran,
sehingga tidak melakukan kecurangan dalam mengerjakan soal ujian tersebut ataupun
menyontek temannya. Disamping itu juga perlu ditegakkannya rasa tanggung jawab
terhadap peserta didik. Sebagai contoh, siswa bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya
sebagai seorang pelajar, dan ia enggan untuk membolos. Sehingga ketika ia telah
dewasa nanti, ia benar-benar bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya,
dan tidak mudah tergiur oleh godaan matrealisme yang menghampirinya.
Diharapkan
dengan diselenggarakannya “Pendidikan Antikorupsi” yang juga diimplementasikan
kedalam tindakan yang konkrit, dapat membentengi serta menjauhkan anak-anak
bangsa dari krisis kejujuran dan keadilan. Serta mampu memerangi dan
menumbuhkan sikap antikorupsi yang dapat dijadikan sebagai perisai diri untuk
menghadapi godaan matrealisme yang ada.
2 komentar:
semangat pagi, cinta ;)
semoga Indonesia bersih dari KKN, yaa
salam kenal FLPers,
www.aniamaharani.blogspot.com
makasih atas kunjungannya ukhti ania:)
hmm..iya, amiin..
kalaupun ada praktek KKN yang telah terjadi di Indonesia, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita sebagai generasi penerus yaa :)
Posting Komentar